Berubahlah IPDN
Mental apakah yang dimiliki oleh teman – temanku di IPDN Ya ?. Kalau boleh berkata kasar gua malu ama tingkah polah mereka yang mengatasnamakan mahasiswa. Di berbagai media kemarin mengangkat kembali kasus terbunuhnya warga Jatinangor oleh keroyokan mahasiswa IPDN. Hanya karena pertengkaran berujung pada maut. Mungkin lain kejadiannya kalau mereka bertarung single, one versus one, he he he. Tapi ternyata anak IPDN beraninya kroyokan, kampungan tuh. Setuju kan ??
Sebenarnya IPDN seperti juga STAN akan banyak membantu putra – putri Indonesia yang pingin sekolah gratis. Tetapi pola pendidikan di STPDN tuh gua nggak suka banget. Untuk membenahi IPDN harus ada langkah mendasar yang harus di lakukan dan berani, ayo Depdagri jangan kalah ama praja mahasiswanya. Masa’ rektor yang sekarang mau menghapus seragam tapi ditolak para praja langsung kalah dan diam aja. DO aja mereka yang provokasi beres kan???
Saya menganggap yang terjadi terhadap mereka adalah rasa kebanggaan yang berlebihan ( narsis ) kali ya. Satu angkatan bangga terhadap angkatannya sendiri, lalu merasa super power dan menghajar adik kelasnya. Satu korps IPDN merasa bangga dengan korpsnya sendiri sehingga sering terjadi masalah satu anak berubah menjadi keroyokan yang dilakukan oleh praja – paraja IPDN. Mereka mungkin merasa PD karena telah dibekali ilmu kanuragan dari kampusnya, he he he.
Saya sebenarnya tidak setuju dengan pembubaran IPDN, karena dia mengakomodasi keinginan masuk kuliah dan bekerja pada Depdagri untuk warga negara baik yang mampu maupun tidak mampu. Seperti yang saya alami di STAN, siswa dari golongan miskin dari pelosok desa sekalipun akan dapat diterima asal lulus seleksi. Setelah lulus dari STAN mereka berkesempatan masuk ke Departemen Keuangan. Jadi, persaingan mendapatkan pekerjaan di Departemen Keuangan dimulai setelah siswa menyelesaikan SMA. Maka walaupun dia kaya ataupun miskin punya kesempatan sama asal lulus seleksi ujian yang dilaksanakan. Jika seandainya, tidak di buka sekolah gratis oleh Departemen itu sendiri, kira – kira mungkin tidak akan terjadi perubahan nasib pada golongan masyarakat miskin di pelosok pelosok desa. Dengan komersialisasi kampus sekarang ini yang aku nilai menyebalkan banget, pasti tidak akan memberi akses kalaupun ada, sangat susah untuk mendapatkan keringanan ataupun dispensasi. Juga jarang ada yang memberikan pembebasan 100% biaya kuliah bagi mereka. Efek tidak dapatnya mereka melanjutkan studi berefek pada hilangnya kesempatan mereka mengikuti seleksi PNS misalnya. Andaikan penerimaan PNS di Depkeu atau Depdagri hanya mengandalkan sistem saringan dari kampus umum, kira – kira yang berkesempatan pastilah mereka yang beruntung mempunyai duwit untuk bersekolah dan sudah lulus baik Diploma atau Sarjana.
Oleh karena itu, saya ingin sekali melihat IPDN itu berubah. Yang bisa dilakukan dengan mencontoh sistem kami di STAN yaitu sebagai berikut:
Pertama, siswanya nggak usah dikasih seragam segala, kami di STAN dibebaskan dari memakai seragam nggak ada apa – apa kok.
Kedua jangan mewajibkan mereka untuk tinggal di asrama, biarkan mereka mencari tempat kos sendiri, tentu bagi yang mampu dia akan sangat senang ( mengingat asramanya mungkin nggak layak, he he) bagi yang sangat tidak mampu mungkin bisa di beri fasilitas asrama.
Ketiga hilangkan wujud senioritas, dengan sudah dihapusnya seragam memang sudah otomatis tidak ada senioritas karena tidak ada pangkat yang menunjukkannya. Tapi yang lebih penting batasi ospek Cuma satu minggu misalnya, dan tidak boleh ada main fisik. Terus jangan sampai ada organisasi – organisasi yang menyaratkan ospek dulu bagi mahasiswa baru sebelum masuk.
Kalau pingin menghemat anggaran negara lagi nih, selain jangan wajib diasramakan, juga nggak usah ada makan bersama, he he he. Soalnya kami di STAN nggak dikasih makan sih.
Setelah mereka dibebaskan dari hal – hal yang mengikat tersebut, maka kreatifitas mereka akan meningkat dan IPDN akan benar – benar menjadi kampus multi etnis, multi golongan, kaya dan miskin yang berkualitas secara akademis. amin
Sebenarnya IPDN seperti juga STAN akan banyak membantu putra – putri Indonesia yang pingin sekolah gratis. Tetapi pola pendidikan di STPDN tuh gua nggak suka banget. Untuk membenahi IPDN harus ada langkah mendasar yang harus di lakukan dan berani, ayo Depdagri jangan kalah ama praja mahasiswanya. Masa’ rektor yang sekarang mau menghapus seragam tapi ditolak para praja langsung kalah dan diam aja. DO aja mereka yang provokasi beres kan???
Saya menganggap yang terjadi terhadap mereka adalah rasa kebanggaan yang berlebihan ( narsis ) kali ya. Satu angkatan bangga terhadap angkatannya sendiri, lalu merasa super power dan menghajar adik kelasnya. Satu korps IPDN merasa bangga dengan korpsnya sendiri sehingga sering terjadi masalah satu anak berubah menjadi keroyokan yang dilakukan oleh praja – paraja IPDN. Mereka mungkin merasa PD karena telah dibekali ilmu kanuragan dari kampusnya, he he he.
Saya sebenarnya tidak setuju dengan pembubaran IPDN, karena dia mengakomodasi keinginan masuk kuliah dan bekerja pada Depdagri untuk warga negara baik yang mampu maupun tidak mampu. Seperti yang saya alami di STAN, siswa dari golongan miskin dari pelosok desa sekalipun akan dapat diterima asal lulus seleksi. Setelah lulus dari STAN mereka berkesempatan masuk ke Departemen Keuangan. Jadi, persaingan mendapatkan pekerjaan di Departemen Keuangan dimulai setelah siswa menyelesaikan SMA. Maka walaupun dia kaya ataupun miskin punya kesempatan sama asal lulus seleksi ujian yang dilaksanakan. Jika seandainya, tidak di buka sekolah gratis oleh Departemen itu sendiri, kira – kira mungkin tidak akan terjadi perubahan nasib pada golongan masyarakat miskin di pelosok pelosok desa. Dengan komersialisasi kampus sekarang ini yang aku nilai menyebalkan banget, pasti tidak akan memberi akses kalaupun ada, sangat susah untuk mendapatkan keringanan ataupun dispensasi. Juga jarang ada yang memberikan pembebasan 100% biaya kuliah bagi mereka. Efek tidak dapatnya mereka melanjutkan studi berefek pada hilangnya kesempatan mereka mengikuti seleksi PNS misalnya. Andaikan penerimaan PNS di Depkeu atau Depdagri hanya mengandalkan sistem saringan dari kampus umum, kira – kira yang berkesempatan pastilah mereka yang beruntung mempunyai duwit untuk bersekolah dan sudah lulus baik Diploma atau Sarjana.
Oleh karena itu, saya ingin sekali melihat IPDN itu berubah. Yang bisa dilakukan dengan mencontoh sistem kami di STAN yaitu sebagai berikut:
Pertama, siswanya nggak usah dikasih seragam segala, kami di STAN dibebaskan dari memakai seragam nggak ada apa – apa kok.
Kedua jangan mewajibkan mereka untuk tinggal di asrama, biarkan mereka mencari tempat kos sendiri, tentu bagi yang mampu dia akan sangat senang ( mengingat asramanya mungkin nggak layak, he he) bagi yang sangat tidak mampu mungkin bisa di beri fasilitas asrama.
Ketiga hilangkan wujud senioritas, dengan sudah dihapusnya seragam memang sudah otomatis tidak ada senioritas karena tidak ada pangkat yang menunjukkannya. Tapi yang lebih penting batasi ospek Cuma satu minggu misalnya, dan tidak boleh ada main fisik. Terus jangan sampai ada organisasi – organisasi yang menyaratkan ospek dulu bagi mahasiswa baru sebelum masuk.
Kalau pingin menghemat anggaran negara lagi nih, selain jangan wajib diasramakan, juga nggak usah ada makan bersama, he he he. Soalnya kami di STAN nggak dikasih makan sih.
Setelah mereka dibebaskan dari hal – hal yang mengikat tersebut, maka kreatifitas mereka akan meningkat dan IPDN akan benar – benar menjadi kampus multi etnis, multi golongan, kaya dan miskin yang berkualitas secara akademis. amin

























3 comments:
aku pernah lihat video pas pemuklulannya di layartancap aja merasa miris
saya pas sekolah dulu pernah juga ngerasain suasana yang agak-agak militeristik karena ekskul saya (jadi bukan karena almamater saya secara keseluruhan). melihat kasus ipdn itu, yang saya ngerti diantaranya adalah: senioritas itu sesuatu yang "dianut". yang membenarkannya bukan hanya yang udah jadi senior, tapi juga yang masih jadi junior pun nggak menganggap itu suatu kesalahan. aneh ya? itu namanya the power of "doktrin" :) mereka anggap: yang begitu ya memang begitu. kekritisan terkondisi untuk menjadi tumpul, sesuatu yang dilihat oleh orang di luar mereka sebagai suatu kata: kasihan.
bahaya kalo orang2 seperti itu menjadi pemimpin negara
betul, budaya yang seperti itu memang harus dihilangkan. tapi, betapapun radikalnya cara yang ditempuh (pemecatan, dsb), tetep butuh waktu
kita masih harus tetap menyabarkan diri kalo beberapa waktu ke depan masih saja ada info kekerasan di sana
menakutkan jika abdi negara bermental seperti itu. mereka akan secara langsung bersentuhan dengan masyarakat. jika pemimpin tidak berjiwa melayani dan mengayomi, akan jadi apa negara kita ini.
saya sangat berharap sistem di ipdn berubah total. melihat videonya sangat mengerikan. saya bersyukur teman saya tidak diterima disana. terlalu banyak korban yang meninggal.kekerasan fisik dan mental. menakutkan.
Post a Comment